Oleh: Nurul Aliah, S.sos., M.AP., Dosen Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof. Haedar Akib,
Tribun Bone Online
ANALISIS TREN DEGRADASI MORAL REMAJA DAN KORELASINYA DENGAN MUTU PENDIDIKAN KARAKTER ERA DGITAL DI KABUAPTEN BONE
Oleh : Hasan Basri, S.Si., M.Si (Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN BONE ) Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam kehidupan remaja di Kabupaten Bone. Kehadiran telepon pintar, media sosial, internet, dan berbagai platform digital memberikan kemudahan bagi remaja untuk memperoleh informasi, berkomunikasi, belajar, dan mengekspresikan diri. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, era digital juga menghadirkan tantangan baru terhadap pembentukan moral dan karakter generasi muda. Remaja merupakan kelompok yang berada pada fase pencarian identitas. Pada masa ini, mereka sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, teman sebaya, sekolah, masyarakat, dan media yang dikonsumsi setiap hari. Jika lingkungan memberikan contoh positif, perkembangan karakter remaja dapat berlangsung secara baik. Sebaliknya, jika remaja terus-menerus memperoleh contoh negatif tanpa pendampingan yang memadai, terdapat risiko munculnya perilaku yang bertentangan dengan nilai moral dan sosial. Persoalan moral remaja tidak dapat hanya dilihat dari perilaku yang tampak di dunia nyata. Saat ini, ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sosial remaja. Bentuk-bentuk perilaku seperti penghinaan, penyebaran informasi pribadi, komentar kasar, perundungan daring (cyberbullying), penyebaran berita palsu, dan penggunaan media sosial tanpa mempertimbangkan dampak terhadap orang lain merupakan tantangan baru dalam pendidikan karakter. Berdasar Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pendidikan di Kabupaten Bone masih menghadapi tantangan dalam hal keberlanjutan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Pada 2024, rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Bone tercatat 7,55 tahun, sementara harapan lama sekolah mencapai sekitar 13 tahun. Pada jenjang pendidikan menengah, Angka Partisipasi Murni (APM) SMA tercatat 58,24 persen, sedangkan Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA sebesar 76,68 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Bone bukan hanya mengenai tersedia atau tidaknya sekolah, tetapi juga mengenai kemampuan sistem pendidikan mempertahankan peserta didik agar terus belajar sampai jenjang yang lebih tinggi. Kondisi tersebut menjadi penting ketika dikaitkan dengan pendidikan karakter. Pendidikan yang bermutu seharusnya tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mampu memperoleh nilai akademik tinggi, tetapi juga individu yang memiliki integritas, tanggung jawab, empati, disiplin, dan kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, pembahasan mengenai dugaan degradasi moral remaja di Kabupaten Bone seharusnya menjadi evaluasi terhadap sejauh mana pendidikan karakter diterapkan dalam kehidupan peserta didik untuk mampu membekali remaja menghadapi perubahan lingkungan sosial di era digital. Degradasi Moral Remaja: Antara Fenomena dan Persepsi Sosial Istilah “degradasi moral” perlu digunakan secara hati-hati. Tidak tepat jika seluruh perubahan perilaku remaja langsung dianggap sebagai kemerosotan moral. Setiap generasi memiliki karakteristik sosial dan budaya yang berbeda. Remaja masa kini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, terutama karena perkembangan internet dan media sosial. Namun demikian, terdapat persoalan yang patut mendapatkan perhatian. Remaja sekarang memperoleh informasi dalam jumlah yang sangat besar dan dalam waktu yang sangat cepat. Mereka dapat memperoleh pengetahuan positif melalui internet, tetapi pada saat yang sama juga berhadapan dengan konten kekerasan, ujaran kebencian, pornografi, budaya konsumtif, perjudian daring, serta berbagai bentuk perilaku negatif. Tantangannya adalah kemampuan remaja dalam menyaring informasi dan mengendalikan perilaku. Dalam perspektif pendidikan karakter, persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tentang baik dan buruk saja belum cukup. Thomas Lickona menjelaskan bahwa karakter yang baik memiliki tiga komponen utama, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Moral knowing berkaitan dengan pengetahuan seseorang mengenai nilai moral; moral feeling berkaitan dengan perasaan atau dorongan batin untuk mencintai kebaikan; sedangkan moral action berkaitan dengan kemampuan mewujudkan nilai tersebut dalam tindakan nyata. Teori Lickona tersebut sangat relevan untuk membaca kondisi remaja. Seorang siswa mungkin mengetahui bahwa menyontek adalah tindakan yang salah, tetapi tetap menyontek ketika menghadapi ujian. Seorang remaja mungkin memahami bahwa menghina teman merupakan perilaku yang tidak baik, tetapi tetap melakukan perundungan di media sosial. Artinya, terdapat jarak antara pengetahuan moral dan tindakan moral. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada penyampaian nasihat mengenai sopan santun, kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Nilai-nilai tersebut harus menjadi kebiasaan yang hidup dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Penelitian dan kajian mengenai Lickona juga menegaskan bahwa ketiga unsur karakter tersebut harus dibangun secara terintegrasi. Korelasi dengan Mutu Pendidikan Karakter Menurut hemat penulis, terdapat hubungan yang cukup kuat secara konseptual antara mutu pendidikan karakter dengan kecenderungan perilaku moral remaja. Namun, hubungan tersebut tidak dapat dipahami sebagai hubungan sebab-akibat tunggal. Degradasi moral tidak otomatis berarti pendidikan karakter di sekolah gagal, karena perilaku remaja dipengaruhi oleh banyak faktor.
Tim RECCAMATH-AR Universitas Muhammadiyah Bone Raih Juara 1 PKP2 PTMA Se-Indonesia
WATAMPONE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bone. Tim RECCAMATH-AR berhasil meraih Juara 1 dalam ajang PKP2 PTMA tingkat Perguruan Tinggi
SMPN 3 Barebbo dan UPT SD Inpres 10/73 Lampoko Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW
BAREBBO, TRIBUNBONEONLINE.COM–SMP Negeri 3 Barebbo bersama UPT SD Inpres 10/73 Lampoko menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Mushalla SMPN
Satlantas Polres Bone Edukasi Safety Riding ke Denpom XIV/1 Bone
WATAMPONE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Sinergi dalam membangun budaya keselamatan berlalu lintas terus diperkuat Satlantas Polres Bone dengan melaksanakan sosialisasi keselamatan berkendara (Safety Riding) kepada personel
Serma Ismail Wakili Danramil 11/Barebbo Hadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H
BAREBBO TRIBUNBONEONLINE.COM–Serma Ismail mewakili Danramil 1407-11/Barebbo menghadiri kegiatan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1448 Hijriyah/2026 Masehi yang dilaksanakan di Masjid Darussalam,























