Sarifa Suhra, Ceramah Nuzulul Quran di Uloe

oleh -1.685 x dibaca

DUA BOCCOE, TRIBUNBONEONLINE.COM–Dr. Sarifa Suhra, S.Ag, M.Pd.I, Ketua FKCA (Forum Kajian Cinta Al-Quran) Kab. Bone menjadi penceramah Nuzulul Quran di Masjid Raya Uloe Kec. Dua Boccoe Kab. Bone tepatnya malam Selasa, 21 Mei 2019.

Bulan Ramadan bulan penuh berkah dan full rahmah serta ampunan. Bulan turunnya Al-Quran dan Lailatul Qadar. Sebagaimana lazimnya di setiap malam 17 Ramadan seluruh umat Islam memperingati malam Nuzul Quran.

Peringatan ini dipusatkan di Masjid Raya Uloe, dan dihadiri pemerintah setempat dan masyarakat berbondong-bondong datang melaksanakan salat tarwih sekaligus mengikuti acara Nuzulul Quran secara seksama.

Acara diawali pembacaan ayat suci Al-Quran oleh santriwati Ponpes As’adiyah Cabang Uloe, dilanjutkan dengan sambutan Camat. Kemudian hikmah Nuzulul Quran oleh Ustadzah Dr. Sarifa Suhra, Dosen Pascasarjana IAIN Bone yang juga merupakan Ketua Umum FKCA dan Ketua Muslimat NU Bone.

Adapun tema yang ditetapkan adalah “Kebersamaan Dalam Keragaman Perspektif Al-Quran”.

Dalam ceramahnya Dr. Sarifa Suhra S.Ag. M.Pd.I selaku pembawah hikmah Nuzulul Quran mengatakan, hidup bersama dalam keragamaan adalah sunnatullah yang harus diterima dan jalankan bersama. Terjadinya Keragaman atau perbedaan baik jenis kelamin, warna kulit, suku, bangsa, agama, budaya, agama, tradisi dll. itu bukanlah kehendak manusia tapi ketetapan Allah untuk menguji tingkat ketakwaan kepada Allah SWT, mampukah manusia yang beraneka ragam itu saling kenal, berinteraksi, saling menghargai dalam istilah Bugis sipakatau, sipakalebbi, sipakainge, sipammase mase. Hal tersebut dikemukakan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13.

Dijelaskan, sesungguhnya ukuran ketakwaan seseorang dalam ayat tersebut adalah kemampuan seseorang menghargai eksistensi orang atau komunitas yang berbeda dengan kita dengan jalan memperkuat persatuan, toleransi dan kerjasama.

“Hal tersebut telah dicontohkan Nabi Mujhammad SAW. Ketika hijrah ke Madinah. Walau masyarakatnya heterogen, banyak suku, banyak agama sangat plural, namun mereka dapat dipersatukan dalam sebuah wilayah yang menjadi teladan dalam berbangsa yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Apa kunci keberhasilan Nabi dalam merangkul semua unsur yang berbeda itu adalah sejenis undang-undang atau peraturan yang disebut Shahifatul Madinah (Piagam Madinah) yang berisi aturan-aturan mengikat seluruh Ahlu Sahifah atau Ahlul Madinah (Penduduk Madinah),” tutur Sarifa Suhra.

Dalam konteks NKRI simbol perekat dan pemersatu semua perbedaan adalah Pancasila. Karena itu ketaatan pada Pancasila sejalan dengan perintah Al-Quran surah Ali Imran ayat : 103 tentang pentingnya memelihara persatuan.

Perpecahan hanya berdampak pada kesedihan dan kesengsaraan karena itu menjaga persatuan, meningkatkan kerjasama dan toleransi antar semua komponen bangsa yang beragam ini wajib adanya.

Sekedar diketahui, acara ini ditutup dengan pembacaan doa oleh Imam Desa Uloe, KM. Wanardi, S.Pd.I, M.Pd.(*/yas89)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.