Ini Penyampaian Pemateri Dalam Kuliah Tamu Prodi PAI S2 IAIN Bone

oleh -2.009 x dibaca

WATAMPONE, TRIBUNBONEONLINE.COM– Melalui pelaksanaan Kuliah Tamu Prodi PAI S2 IAIN Bone dengan tema “Peran Guru PAI Dalam Menangkal Radikalisme dan Mengokohkan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan” tepatnya Rabu, 21 Agustus 2019 di Aula Utama IAIN Bone. (21/8/2019)

Dalam hal ini, penyampaian Pemateri Prof. Dr. Akh. Muzakki menjelaskan, bahwa Guru PAI harus menjadi benteng terdepan menangkal radikalisme dengan menjadi teladan dalam sikap, ucapan dan tingkahlaku. Perlu diketahui bahwa tidak semua yang lahirnya berbeda harus dipertentangkan, karena memang tidak untuk dipertentangkan, tapi saling menyokong demi terwujudnya Agama dan Bangsa yang kuat.

Contoh ketika kita dihadapkan pada pertanyaan pilih mana Al-Qur’an atau Pancasila maka rasa beragama kita pasti memilih Al-Qur’an, namun ternyata ini adalah pertanyaan jebakan karena antara Al-Qur’an dan Pancasila tidak setara namun masing-masing penting dan keduanya punya porsi tersendiri dalam jiwa seseorang sebagaimana ketika seorang istri bertanya kepada suaminya pilih mana aku atau ibumu, tentu suami yang baik memilih keduanya karena keduanya penting dan berjasa dalam kehidupannya, rasa dan logika harus dibedakan,” jelasnya

Rasa Agama penting, tapi harus dikontrol logika kritis agar kita tak terjebak dalam politik identitas yang sedang dimainkan oleh kelompok radikal atas nama Agama yang menganggap hanya paham dan identitas Islam yang dipahami satu-satunya kebenaran, padahal kebenaran itu bisa berbeda tergantung sudut mana kita memandang. Kita harus yakin bahwa kultur Agama yang selama ini dibangun di Indonesia sudah benar,” terangnya

Lebih lanjut Dr. Abdul Majid Khon, menjelaskan, Islam bukan hanya yang berjubah, dan bercadar. Ingat Abu Lahab dan Abu Jahal juga berjubah padahal mereka kafir Quraisy. Artinya jubah hanya kultur/budaya Arab juga cadar karenanya semua itu bukan Sunnah. Namun boleh saja dipakai kalau unsur maslahatnya lebih tinggi.

“Kesalahan persepsi terjadi jika klaim kebenaran dan klaim Sunnah hanya milik mereka saja lalu yang lain dianggap tidak ikut Sunnah. Islam diserap, dipahami dan diamalkan isinya dalam kemasan yang boleh saja beda dari sumbernya karena perbedaan Suku Bangsa melahirkan perbedaan budaya dan tradisi. Perbedaan itu Sunnatullah dan kepastian dari Allah, dan Allah sendiri yang menciptakannya sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13,” tuturnya. (yas89)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.