Melalui Kuliah Tamu Prodi PAI S2 IAIN Bone, Ini Harapan Dr. Sarifa Suhra, S.Ag., M.Pd.I

oleh -2.167 x dibaca

WATAMPONE, TRIBUNBONEONLINE.COM-– Pada Rabu, 21 Agustus 2019 bertempat di Aula Utama IAIN Bone berlangsung acara Kuliah Tamu dengan tema “Peran Guru PAI Dalam Menangkal Radikalisme dan Mengokohkan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan”. (21/8/2019)

Acara ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan Staf Prodi PAI S2 Ustadz Bakri S.Pd.I, M.Pd.I dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lalu sambutan Wakil Rektor I IAIN Bone bapak Dr. Nursyirwan, S.Ag, M.Pd sekaligus membuka acara Kuliah Tamu dengan resmi.

Dalam acara ini dilakukan penandatanganan MoU antara Ketua Prodi PAI Pascasarjana Dr. Sarifa Suhra, S.Ag., M.Pd.I dengan kedua Pemateri yakni 1. Prof. Dr. Akh. Muzakki, M.Ag.,MA, Ph.D beliau adalah Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Sunan Ampel Surabaya. 2. Dr. Abdul Majid Khon, M.Ag Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Prodi PAI seluruh Indonesia.

Penandatanganan MoU ini terkait kerjasama di bidang pengembangan pendidikan Islam dan pengabdian pada masyarakat dalam menangkal radikalisme dan mengokohkan moderasi beragama.

Kuliah tamu ini dihadiri 150 orang peserta dan 20 panitia serta segenap pejabat dalam lingkup IAIN Bone khususnya pengelola Pascasarjana dan Fakultas Tarbiyah serta para Ketua Prodi.

Tampil sebagai moderator Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I M.Pd.I. Kemudian acara ini ditutup dengan pembacaan Do’a Ketua Prodi Eksyar S2 Dr. H. Arifin Sahaka, M.Ag dilanjutkan penyerahan cenderamata┬ákepada kedua pemateri dan foto bersama.

Ketua Prodi PAI Pascasarjana Dr. Sarifa Suhra, S.Ag., M.Pd.I berharap, “Agar Guru PAI baik di Sekolah maupun di Madrasah mampu mengontrol aktivitas peserta didik, agar tidak terpapar paham radikal karena dapat memicu perpecahan dan kehancuran, Guru harus mengembangkan kurikulum yang berisi muatan moderasi beragama yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi bukan hanya antar Mazhab, antar Ormas bahkan antar beda Agama agar tercipta kedamaian dan terwujud Islam Rahmatan Lil Aalamiin,” tuturnya.

“Sudah saatnya Guru PAI jadi garda terdepan pencegahan paham radikal yang bisa melahirkan terorisme jangan pernah beri ruang bagi mereka yang kurang paham Agama mendidik anak kita. Kurang paham Agama maksudnya Islam dipahami secara sempit lalu mengklaim pemahaman keislamannya satu-satunya kebenaran,” tambahnya

“Ingat Guru profesional harus kreatif dan inovatif itu berarti Guru harus melakukan Bid’ah (inovasi) agar pembelajarannya sukses, teruslah inovatif dalam mengajar ciptakan budaya sekolah yang religius dengan memaksimalkan literasi. Kurang membaca dapat menyebabkan radikalisme karena hanya paham satu literatur dianggap satu-satunya kebenaran, padahal ada sumber lain yang shahih karenanya perlu juga diperkuat metode Tahrij Hadis agar mampu bijak menyikapi perbedaan,” tutupnya. (yas89)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.