BUDAYA PEMAKAIAN SONGKOK RECCA

oleh -1.223 x dibaca

Oleh : Yuddin, S.Pd. Purna Bakti SMAN 23 Bone

Songkok Recca atau Songkok Pamiring, juga biasa disebut Songkok To Bone dan oleh orang Makassar menyebutnya Songkok Guru.

Dinamakan Songkok Recca karena bahannya terbuat dari pelepah pohon Lontarak yang dipukul-pukul, dalam bahasa Bugis direcca-recca untuk diambil seratnya sebagai bahan membuat Songkok Recca.

Dinamakan Songkok Pamiring karena dibagian bawahnya ada lesnya yang berwarna keemasan atau perak (Pamiring pulaweng atau Pamiring Salaka).

Dinamakan Songkok To Bone, karena dibuat di Bone, akan tetapi bukan hanya orang Bone saja yang memakainya.

Dinamakan Songkok Guru oleh orang Makassar karena pada jaman dahulu hanya dipakai oleh guru kampung, pak imam dan yang sering diundang untuk membaca-baca.

Pengrajin Songkok Recca di Bone berada di Bone bagian utara yakni Kecamatan Awangpone dan sekitarnya, khususnya di Paccing dan Mallari, dimana disana terdapat banyak pohon Lontara.

Songkok Recca dikenal di Bone sejak masa pemerintahan Raja Bone ke 16 La Patau Matanna Tikka Matinroe Ri Nagauleng pada tahun 1696-1718 (18 tahun). Lapatau Matanna Tikka merupakan pelopor pemberlakuan Budaya dan Adat Istiadat Bugis Bone.

Termasuk perlengkapan Tata Busana Adat, Busana Pengantin, acara Mappacci atau Tudang Penni dan lain-lain.

Selain Songkok Recca diproduksi di Bone, juga di produksi di Galesong Kabupaten Takalar yang dinamakan Songkok Guru yang masing-masing punya ciri khas. Namun penulis tidak bisa memastikan siapa yang duluan memproduksi songkok tersebut.

Harga songkok Recca bervariasi, tergantung kehalusan bahan dan cara kerjanya. Yang halus dibuat selama dua sampai tiga bulan baru selesai satu songkok. Harganya lima ratusan sampai dua jutaan rupiah. Sedangkan yang kasar di buat hanya beberapa hari saja bisa selesai satu songkok dan harganya hanya lima puluhan sampai empat ratusan rupiah. Lain halnya bila memakai benang emas asli, tergantung berapa geram emasnya ditambah ongkos kerjanya.

Pada jaman Kerajaan Bone, pemakaian Songkok Recca tergantung tingkatan Derajat Kebangsawanan orang Bone yang memakainya. Semakin tinggi derajat Kebangsawananya (Akkarungenna) semakin tebal les warna emasnya. Contohnya : Para Mangkau (Raja Bone) sebagai To Mappadeceng, memakai Songkok Recca hampir lesnya penuh warna emasnya (Pamiring Pulawengna). Sedangkan Bangsawan biasa memakai Songkok Recca hanya tipis les warna emasnya. Adapun wija Daeng atau Tau Deceng (To Maradeka) memakai Songkok Recca yang lesnya berwarna perak. Sedangkan Tau Samaa atau orang yang kebanyakan (umum), memakai Songkok Recca yang polos tanpa les, baik warna perak terlebih warna emas.

Maksud diatas aturan mengenakkan Songkok Recca pada jaman Kerajaan Bone. Tapi sekarang kita amati orang bebas memakainya, tidak peduli tipis atau tebal Pamiring Pulawengna yang penting bisa membelinya. Bahkan dipakai sebagai gagah-gagahan dalam suasana apa saja bukan pada tempatnya.

Ini adalah salah satunya menandakan bahwa, masih ada rakyat Bone yang kurang paham khususnya generasi muda tentang aturan Adat dan Budaya dalam mengenakkan pelengkap pakaian Adat dalam hal ini Songkok Recca. Atau apakah mungkin karena faktor gengsi sehingga orang Bone sendiri tak melestarikan Budaya yang sebenarnya.
Hanya selogan “BONE BERADAT”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.