Tanggapi Pemberitaan di Media Terkait Persalinan di Puskesmas Tonra

oleh -1.579 x dibaca

-Kapus: Sudah Ditangani Sesuai Prosedur

TONRA, TRIBUNBONEONLINE.COM–Menanggapi soal pemberitaan di media terkait proses persalinan di UPT Puskesmas Tonra Kabupaten Bone pada Sabtu 27 Juni 2020 sekira pukul 12.15 wita. Yang mana dalam pemberitaan tersebut seolah-olah menyudutkan pihak Puskesmas hingga menyebabkan kematian bayi perempuan tersebut.

“Disini saya mau meluruskan terkait pemberitaan di media soal proses persalinan dan penyebab kematian bayi tersebut. Bahwa dipastikan bayi itu memang lahir dalam keadaan meninggal atau sudah meninggal dalam kandungan,” tegas Kepala UPT Puskesmas Tonra, Ratna, SKM saat ditemui pada Senin 6 Juli 2020.

Terkait permintaan rujukan pihak keluarga, Ratna menjelaskan jika pihaknya bukan tidak mau mengabulkan permintaan tersebut. Akan tetapi saat itu kondisinya sudah tidak memungkinkan, dikarenakan proses kelahiran sudah berlangsung.

“Bukannya tidak mau menuruti permintaan keluarga akan permintaan rujukan. Akan tetapi saat itu kepala bayi sudah keluar atau proses persalinan sudah berjalan. Jadi tenaga perawat dan bidan yang bertugas segera mengambil tindakan pertolongan guna membantu kelancaran proses lahiran bayi tersebut,” terangnya.

Menanggapi tudingan yang menyatakan dirinya tidak mau atau menolak ditemui dan terkesan tertutup dari wartawan saat mau di konfirmasi, Ratna menjelaskan jika itu hanya miskomunikasi. Karena pada saat pewarta datang memang dirinya tidak lagi berada ditempat, melainkan sedang berada di Kabupaten Bulukumba (luar daerah).

“Saya tidak pernah ada janji buat ketemu dengan seseorang pada hari yang dimaksud (Sabtu, 4/7). Memang pernah ada yang menelpon saya untuk mengkonfirmasi terkait kematian bayi tersebut, akan tetapi saat itu saya mengarahkan ke Puskesmas untuk bertanya kejadian yang sebenarnya pada perawat atau bidan yang menangani proses persalinannya, dan bukan sama sekali janji untuk ketemu dengan saya,” jelasnya.

“Pada hari itu (Sabtu, 4/7) memang saya keluar melayat sebagaimana yang disampaikan petugas, tetapi setelah itu saya terus ke Bulukumba sebagaimana yang disampaikan anak saya. Jadi disini tidak ada maksud atau sengaja untuk menghindar dari wartawan yang mau konfirmasi permasalahan tersebut,” tambahnya.

Selain itu, Ratna menyayangkan orangtua bayi, SA yang baru sekarang mempermasalahkan proses lahiran bayinya setelah seminggu kemudian dari kejadian. Menurutnya, sedianya SA mengkonfirmasi pada Bidan atau petugas yang menolong istrinya melahirkan pada hari itu (27/6).

“Kalau memang orangtua bayi merasa ada keganjalan dengan proses persalinan istrinya, kenapa bukan pada hari itu juga ia melakukan konfirmasi, kenapa baru sekarang setelah satu minggu kemudian, terlebih tenaga Bidan yang betugas di Desa Rappa itu merupakan keluarganya sendiri,” ujarnya.

Lanjut disampaikan, berat bayi 3,4 Kg, dan bukan 4,8 Kg sebagaimana postingan orangtua bayi dikolom komentar di akun Facebooknya.

“Disini kita berbicara data dan fakta yang ada, jangan sekedar menduga-duga. Karena kalau berat bayi mencapai 4,8 Kg, proses bersalinnya itu sudah bisa tidak dilakukan secara normal atau dilakukan Operasi Caesar dan Bidan yang menanganinya pasti sudah tahu akan itu. Tapi memang berat bayi 3,4 Kg dengan panjang 50 Cm sehingga proses bersalinnya pun dilakukan secara normal,” ungkapnya.

“Disini kami mau tegaskan bahwa, tindakan pertolongan persalinan yang diambil saat itu dipastikan sudah sesuai prosedur dan mekanisme yang ada. Akan tetapi itu tadi, bayi memang lahir dalam kondisi meninggal atau sudah meninggal dalam kandungan,” pungkasnya.

Penulis: edy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.