Bicarakan Kesepakatan Harga, Pengecer Pupuk Dan Petani Salomekko Duduk Bersama

oleh -346 x dibaca

SALOMEKKO, TRIBUNBONEONLINE.COM–Guna keseragaman harga pupuk bersubsidi khususnya di Kelurahan Pancaitana Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone, pengecer pupuk dan petani setempat menggelar musyawarah untuk mencapai mufakat, Ahad, 28 Februari 2021.

Acara yang berlangsung diaula Kelurahan Pancaitana ini dihadiri Plt Lurah Pancaitana Andi Baharuddin, S.Pd, M.Pd, Kepala UPT Pertanian Salomekko Ismail, perwakilan pengecer pupuk Fadli serta puluhan Ketua Poktan dan anggota tani yang terhimpun dalan aliansi petani Kecamatan Salomekko.

Plt Lurah Pancaitana, Andi Baharuddin dalam sambutannya menerangkan jika kegiatan ini merupakan wadah bagi petani dan pengecer untuk duduk bersama guna membicarakan kesepakatan harga yang seharusnya dibebankan kepada petani sebagai acuan dalam mendapat layanan pupuk bersubsidi tingkat Kelurahan Pancaitana.

“Disini kami hanya memfasilitasi pelaksanaan musyawarah ini dengan harapan adanya titik temu kesepakatan harga antara petani dan pengecer, baik mengambil langsung kegudang ataupun harga bilamana diantarkan langsung kepetani. Dan dengan keputusan yang ada, nantinya tidak ada lagi riak-riak dibawah. Olehnya segala pertanyaan yang mengganjal sekiranya diungkapkan dalam forum ini,” harapnya.

Selaku perwakilan pihak pengecer, Fadli menguraikan Harga Eceran Tertinggi (HET) jenis pupuk bersubsidi. Dan pihaknya memastikan tidak ada pungutan tambahan atau biaya diluar HET jika petani berinisiatif menjemput sendiri digudang. Adapun tambahan harga yang ada saat ini merupakan biaya transportasi dan upah buruh yang menurutnya sudah ada kesepakatan antara petani dan pengecer bilamana petani menerima ditempat.

“Kami pastikan tidak ada biaya tambahan diluar HET bilamana petani ingin menjemput sendiri pupuknya digudang, tetapi dengan catatan harus melengkapi segala persyaratan administrasi yang dibutuhkan. Adapun jenis pupuk non subsidi 1 Kg yang diikutkan pada setiap pengambilan satu zak pupuk bersubsidi, itu merupakan langkah yang harus kami tempuh, mengingat pihak distributor juga membebankan kepada kami pengambilan pupuk non subsidi dalam setiap pengambilan pupuk bersubsidi,” ungkapnya.

Yang mana selain mencari kesepakatan harga, sebelumnya perwakilan petani juga sempat meminta pengecer untuk meniadakan pupuk non subsidi yang dibebankan kepada petani. Namun setelah mendengar penjelasan pihak pengecer, akhirnya petani pun memaklumi dan bersedia menerima pupuk non subsidi tersebut.

Koordinator aksi, Ashar Hasanuddin menjelaskan kalau lewat musyawarah ini pihaknya ingin menjalin kesinambungan maupun kepercayaan antara petani dan pemerintah serta untuk mencari kesepakatan harga antara petani dan pengecer agar tidak ada lgi kesimpang siuran dibawah. Mengingat harga pupuk yang berbeda selama ini menjadi pembahasan dikalangan petani.

“Ini merupakan forum musyawarah, yang mana kami meminta penjelasan akan alur penyaluran pupuk bersubsidi. Transparansi ini dibutuhkan untuk menyamakan persepsi atau asumsi yang beredar dibawah. Yang sekaligus meminta pihak penyuluh memaparkan harga pupuk yang beredar, mengingat penyuluh hadir untuk membantu tim pengawas pertanian untuk memberikan sosialisasi serta mengawasi peredaran pupuk subsidi di petani,” ujarnya.

Dari pelaksanaan musyawarah ini akhirnya disepakati untuk biaya pengantaran plus biaya administrasi, petani dikenakan biaya tambahan sejumlah Rp.12.500.00 untuk per zaknya. Yang mana setiap pengambilan satu zak pupuk bersubsidi, petani juga mengambil pupuk non subsidi seharga Rp.10 ribu.

Penulis : Edi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.