Sarifa Suhra Bawakan Materi Kedudukan Perempuan Dalam Islam

oleh -719 x dibaca

WATAMPONE, TRIBUNBONEONLINE.COM– Pada Jumat, 20 Mei 2022, dilaksanakan acara kaum Muslimah (Kajian Jumat Muslimah) yang diselenggarakan LKQ (Lembaga Kajian Quran) IAIN Bone bertempat di Mushollah Kampus I IAIN Bone Jl. HOS Cokroaminoto No. 1 Watampone.

Hadir dalam acara ini sejumlah pengurus dan anggota LKQ yang tercatat sebagai kader aktif LKQ tahun Akademik 2021/2022. Acara ini menghadirkan Dosen Pascasarjana IAIN Bone Dr. Sarifa Suhra, S.Ag, M.Pd.I yang sangat aktif mengisi berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan, baik organisasi ekstra seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan KOPRI (Korps PMII Puteri) maupun organisasi Intra Kampus diantaranya: LKQ (Lembaga Kajian Quran), FUIM (Forum Ukhwah Islamiyah Mahasiswi), FKMA (Forum Komunikasi Mahasiswa Alumni As’adiyah) dan sejumlah HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) yang ada dalam lingkup Ormawa IAIN Bone sejak 2010 hingga sekarang.

Kajian Jumat Muslimah ini mengusung tema “Kedudukan Perempuan Dalam Islam”, menurut Ustadzah Dr. Syarifa demikian panggilan akrabnya, “Islam adalah ajaran agama yang sangat memuliakan perempuan sebagaimana kaum laki-laki. Hal tersebut diperkuat dengan beberapa dalil Al-Quran seperti QS. Al-Hujurat ayat 13, Bani Israil ayat: 70, Al-Tin ayat 4. dll.

Ketua Prodi PAI S2 itu mengatakan, terdapat perbedaan mencolok antara kedudukan perempuan pra Islam dan setelah datangnya Islam diantara perbedaan tersebut adalah:
1. Sebelum Islam perempuan tidak boleh memperoleh warisan sementara Islam membolehkan
2. Sebelum Islam perempuan dianggap barang sehingga bisa diwariskan seperti harta waris sedangkan Islam memuliakan perempuan tidak diwariskan tapi mewarisi harta
3. Sebelum Islam laki-laki bebas menikah sebanyak-banyaknya tanpa batas sedang Islam membatasi maksimal 4 itupun jika darurat lebih utama satu saja
4. Pra Islam laki-laki bebas ceraikan isterinya jika suami bosan dan perempuan tak punya hak talak atau menuntut jika suami zolim pada isteri namun dalam Islam isteri bisa meminta kepada hakim pengadilan agama memutuskan perkawinannya (khuluk) jika suami bertindak zolim pada isteri. jika terjadi 4 hal (2 tahun lamanya isteri ditinggalkan, tidak diberi nafkah lahir batin 3 bulan lamanya, dibiarkan tidak komunikasi 6 bulan lamanya, terjadi KDRT)
5. Pra Islam anak perempuan dikubur hidup-hidup sementara Islam dibiarkan hidup layak
6. Pra Islam menjalankan tradisi kawin istibda’ (menitip anak perempuan pada kepala suku tuk digauli untuk memperoleh keturunan berkualitas) sedang Islam melarang tradisi itu.
7. Pra Islam mengenal budaya kawin sighar (kawin tanpa mahar/mahar diambil oleh wali) sedangkan Islam wajib ada mahar. mahar ini tanda cinta seorang suami pada isteri yang wajib diberikan khusus pada isteri bukan orang lain.

Penulis : Ilyas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.