12 Desa Jadi Sasaran Proyek Landas4lives di Bone

oleh -388 x dibaca

WATAMPONE, TRIBUNBONEONLINE.COM– Kabupaten Bone kembali mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Melalui Lembaga World Agroforestry (ICRAF), setidaknya ada 12 desa yang akan menjadi sasaran proyek Sustainable Landscapes for Climate-Resilient Livelihoods in Indonesia (Land4Lives).

ICRAF merupakan lembaga yang bergerak dalam bidang penelitian pertanian dan agroforestry yaitu konsep pertanian yang memadukan antara pertanian dan perkebunan. Lembaga ini bertempat di Bogor yang memiliki tujuan bagaimana meningkatkan ketahanan ekonomi petani terhadap perubahan iklim utamanya bagi perempuan dan anak perempuan.

Peneliti senior ICRAF, Rahayu Subekti mengatakan, melalui proyek Land4Lives INCRAF bakal melakukan penelitian mengenai praktek budidaya sampai dengan pemasarannya, termasuk mulai biofisiknya sampai kepada sosial ekomominya. Kegiatannya Land4Lives ini durasinya selama lima tahun area lokusnya di tiga provinsi Sumatera Selatan, Sulsel dan Nusa Tenggara Timur.

“Bentang lahannya Sumatera Selatan sebanyak 2 bentang lahan. Dua bentang lahan lainnya di Bone yaitu DAS Walannae dari hulu dan daerah hilir, sementara NTT ada sub DAS. Dari masing sub bentang lahan kita ambil enam desa sebagai pilot yang akan dilakukan intervensi paket kerja ketiga.
Untuk Bone sebanyak 12 desa,” katanya.

Land4Lives mempunyai capaian harapan berupa peningkatan penghidupan pluktuasi ekonomi dan iklim serta peningkatan ketahanan pangan bagi masyarakat yang tertinggal, rentan terutama bagi kelompok perempuan dan anak-anak perempuan yang ada di Indonesia.

“Jadi ada tiga paket kerja Land4Lives ini. Paket kerja pertama lebih banyak bekerja tingkat kebijakan, pengelolaan bentan lahan. Kedua pengelolaan bentang lahan yang lebih baik meliputi tiga capaian yaitu adanya kebijakan yang mendorang terjadinya pengeloaan bentang lahan dan hutan, melakukan analisis terhadap pengelolaan SDA pada suatu DAS dan peningkatan kapasitas bagi pengelola lahan,” terangnya.

Termasuk juga mengenai
kerawanan bencana banjir dan kekeringan, penyediaan dan kebutuhan jasa lingkungan; ketahanan dan kerawanan pangan menjadi indikator-indikator penting dalam penetapan sub bentang lahan tersebut.

“Pilihan sub-DAS ini merupakan kunci untuk menetapkan desa-desa yang menjadi lokus Land4Lives,” terangnya.

Gerhard Sebastian, peneliti senior ICRAF dari Paket Kerja 3 (implementasi di tingkat desa untuk meningkatkan mata pencaharian yang berketahanan iklim), menyampaikan sementara konsultasi masih terus dilakukan, kriteria untuk mengerucutkan pilihan desa.

Dalam paparannya, Gerhard menyebutkan bahwa Kriteria pemilihan desa adalah sebagai berikut: 1) Mengalami bahaya terkait perubahan iklim dan/atau terpapar kerawanan pangan dalam kurun waktu; 2) mata pencaharian utama masyarakat adalah pertanian atau agroforestri; 3) komoditas komersial dan tanaman pendamping menjadi komponen utama dalam sistem pertanian; 4) tertarik untuk terlibat dalam dalam pengelolaan bentang lahan; 5) saat ini memiliki kolaborasi dengan atau didukung oleh pemerintah daerah atau pemangku kepentingan lain; 6) saat ini terlibat dalam program pemberdayaan perempuan & perlindungan anak di bawah program pemerintah; 7) tertarik dengan aktivitas program; 8) tertarik untuk peningkatan keterlibatan pasar; 8) bersedia berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan masyarakat/pemangku kepentingan lain.

Penulis : Ilham Iskandar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

No More Posts Available.

No more pages to load.